LEARNING DESAIN FOR COLLABORATIVE COURSES IN MATHEMATICS EDUCATION : INTEGRATING DYNAMIC MATHEMATIC SYSTEMS WITHIN LEARNING MANAGEMENT SYSTEMS\

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Deskripsi dari proses belajar yang terjadi di unit pembelajaran ditetapkan sebagai desain pembelajaran. Sebuah  unit pembelajaran dapat dicirikan khusus, sebuah pelajaran, atau peistiwa lainnya, seperti struktur kolaborasi tertentu. Kunci prinsip dalam desain pembelajaran adalah bahwa hal itu merupakan kegiatan belajar yang perlu dilakuka oleh peserta didik dan guru dalam konteks unit pembelajaran. Sebuah bagian penting dari sebuah desain pembelajaran adalah bahwa pedagogi secara konseptual disarikan dari konteks dan konten, sehingga  bahwa model pedagogis yang sangat baik bias dibagi dan dipakai ulang dikonteks instruksional dan subjek domain. Bahkan model pedagogis tersebut dapat tercermin dalam desain pola yang bebas konteks dan bias dibagi dan dipakai ulang diseluruh berbagai konteks instruksional dan pada dasarnya membantu belajar online. Penelitian di e-learning juga menunjukkan bahwa melibatkan peserta didik dengan pembelajaran kolaboratif secara online dapat memberikan mereka kesempatan penting untuk meningkatkan keragaman mereka  dalam hal konsep pembelajaran yang dipertanyakan, memperluas dan memperdalam belajar pengalaman mereka, mencoba ide baru dan memotivasi keterlibatan aktif mereka dalam pembelajaran.

Dalam konteks belajar desain, peran pola desain kolaboratif adalah untuk menunjukkan secara jelas aliran kolaborasi kegiatan yang menggunakan struktur kolaborasi tertentu. Walaupun computer yang mendukung pembelajaran kolaboratif telah banyak diakui sebagai paradigma yang muncul dari teknologi pendidikan, banyak guru yang tetap yakin mengapa, kapan, dan bagaimana untuk mengintegrasikan kolaborasi dalam pengajaran mereka pada praktek pada umumnya, apalagi kelas online. Untuk tujuan ini, perlu dicatat bahwa jenis editor yang guru kelas perlukan biasanya harus sama dengan authoring lingkungan yang dsediakan oleh lams, seorang dikenal integrasi dengan baik dengan e-learning system yang efektif mendukung desain pembelajaran akhir-akhir ini. Baru-baru ini telah dibangun  sejumlah pola desain kolaborasi telah dibangun dengan alat yang disediakan oleh lams. Terutama ketika dating ke pendidikan matematika, ada juga berbagai buah perangkat lunak pendidikan yang dapat digunakan oleh para guru untuk desain pembelajaran dengan kegiatan yang dapat mendorong siswa belajar secara modern social konstruktif.

Untuk tujuan ini, Geogebra adalah bagian dari perangkat lunak yang juga open source yang dapat mendukung pembelajaran matematika dinamis cara terbaik terletak dalam konteks pendangan modern tersebut pengetahuan konstruksi. Tampaknya guru matematika memerlukan spesifik lebih dalam dukungan perencanaan pembelajaran mereka, seperti alat khusus dan contoh yang baik kegiatan pembelajaran. Dengan semua pertimbangan diatas, kita telah berusaha untuk membuat sebuah kolaborasi pembelajaran lingkungan dengan mengintegrasikan Free source open software seperti Geogebra dan lams dengan pembelajaran kolaboratif jigsaw untuk membangun urutan kegiatan pembelajaran untuk intra disiplin pemahaman tentang gagasan  matematika sudut.

Belajar desain untuk kursus kolaborasi pendidikan matematika : mengintegrasikan system dalam kegiatan belajar managemen system perlu dikaji karena penelitian ini menekankan pada peran mengintegrasikan matematika dinamik system dalam konteks pembelajaran untuk desain kolaboratif yang sesuai dicampur kursus dipendidikan metmatika.Untuk tujuan ini, diperlukan suatu lingkungan belajar yang dibentuk menggunakan intgrasi dari free open source software (FOOS), yaitu geogebra dan lams(learning management system).

            Disini penulis akan mencoba membahas tentang desain pembelajaran yang bersifat kolaboratif yang dapat memberikan motivasi tersendiri bagi para siswa. Kegiatan pembelajaran akan disajikan menggunakan pola desain yang spesifik yang menggunakan lingkungan belajar yang sering disebut sebagai free open source software (FOSS) yaitu yang bermanfaat untuk belajar berbagai konsep matematika. Untuk memperjelas pemanfaatan dari free open source software ini akan dijelaskan contoh pembelajaran kolaboratif dengan pembelajaran konsep geomeri sudut.

 Rumusan Masalah

  1. Apa pengertian geogebra, lams, dan jigsaw?
  2. Bagaimana integrasi geogebra dan jigsaw dalam learning management system pada contoh pembelajaran pada konsep belajar sudut?

Tujuan umum

  1. Mengetahui deskripsi geogebra, lams, dan jigsaw.
  2. Mengetahui integrasi antara pembelajaran kolaboratif tipe jigsaw dengan learning management system.

Tujuan khusus

  1. Mengetahui deskripsi Lams, Geogebra dan jigsaw dalam pembelajaran matematika.
  2. Mengetahui integrasi pembelajaran kolaboratif tipe jigsaw dengan learning management system dalam contoh pembelajaran pada konsep belajar sudut.

Manfaat teoritis

  1. Mendapatkan teori baru mengenai deskripsi geogebra, lams, dan jigsaw
  2. Mengetahui integrasi pembelajaran kolaboratif tipe jigsaw dengan learning management system dalam contoh pembelajaran pada konsep belajar sudut.

Manfaat praktis

  1. Manfaat bagi siswa untuk melatih ketrampilan bertanya.
  2. Manfaat bagi siswa untuk melatih memperluas dan memperdalam pengalaman belajar mereka.
  3. Manfaat bagi guru untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam pemahaman konsep pembelajaran matematika secara online.

 

BAB II

KAJIAN TEORI

E-learning

E-learning merupakan singkatan dari elektronik learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai system pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Berikut definisi E-learning menurut para tokoh:

  • Jaya Kumar C. Koran(2002), E-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran elektronik(LAN, WAN, atau Internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
  • Dong(dalam kamarga 2002), E-learning sebagai kegiatan asynchronous melalui perangkat elektronik computer yang memperoleh bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
  • Rosenberg(2001), menekankan bahwa E-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan.

Desain Pembelajaran

Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai system dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmi, dsain pembelajaran, merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan dan penilaian serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala mikro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai system, desain pembelajaran merupakan pengembangan system pembelajaran dan system pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu pembelajaran

            Sementara itu, menurut Syaiful (2005:136) desain pembelajaran sebagai proses diartikan sebagai pengembangan pembelajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran untuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengendung arti bahwa

Pendidikan Matematika

Menurut Jonson dan Rising, “Matematika dikatakan sebagai pengetahuan struktur yang terorganisasi, sifat-sifat atau teori dibuat secara deduktif berdasarkan pada unsur yang didefinisikan, aksioma, teori yang telah dibuktikan kebenarannya.”(Jonson dan Rising, 1972).

Menurut Ernest Hemingway, pendidikan merupakan kegiatan yang harus berfungsi sebagai a built in shockproof crap detector, yaitu alat pendeteksi   ebodohan dan keadaan yang kedap kejut atau tahan bantingan dan tetap.

Dari dua pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan matematika adalah suatu proses yang membantu manusia untuk mendapatkan kemampuan atau ketrampilan dalam mengorganisasikan bilangan atau simbol secara terstruktur berdasarkan aturan dan teori yang sudah didefinisikan secara jelas sehingga dapat diperoleh hasil yang benar dan dapat diterapkan dalam kehidupannya.

 GeoGebra

Geogebra merupakan software matematika dinamis untuk pendidikan disekolah menengah  yang bergabung kalkulus, aljabar, dan geometri. Program yang dikembangkan oleh Dinamic Mathematic for Everyone ini menguntungkan sekali bagi guru dalam mengajarkan Aljabar Geometry. Dalam program ini tersedia banyak sekali fitur tentang geometry dan nilai aljabarnya, seperti persamaan garis, jarak antara dua titik, gambar segibanyak dan luasnya, lingkaran dengan luas, jari, besar sudut pusat, luas juring dan masih banyak lagi fasilitas yang terdapat di dalamnya

Lams(Learning Management Sistem)

Learning management system atau yang biasa dikenal dengan kegiatan belajar managemen system. Pendekatan lams sering diartikan suatu pendekatan dimana rancangan belajar (kegiatan belajar sequence) terdiri dari kegiatan belajar individu. Lams merupakan alat revolusioner untuk merancang, mengelola, dan memberikan kolaborasi belajar online. Menyediakan guru dengan lingkunga authoring sangat intuitif visual untuk menciptakan urutan kegiatan belajar. Kegiatan ini mencakup berbagai tugas individu , kerja kelompok kecil, dan kegiatan seluruh kelas didasarkan pada konten dan kolaborasi. Lams merupakan perangkat lunak free open sourch software tersedia dibawah lisensi GPL vers 02. NU.

 BAB III

ISI ARTIKEL JURNAL INTERNASIONAL

Deskripsi geogebra, lams, dan jigsaw.

Geogebra adalah system matematika dinamis yang menyediakan alat yang beragam  untuk mendukung kebanyakan belajar konsep matematika termasuk dalam geometri Euclid, digeometri analitik, dan aljabar. Selain itu, geogebra menyediakan alat untuk membangun beberapa representasi baik numeric maupun visual, geometri tokoh seperti itu, table persamaan, grafik, perhitungan yang juga dapat saling terkait. Selain itu, konstruksi grafis dalam geogebra bersifat dinamis yang berarti mereka bias langsung dimanipulasi dengan menggunakan ‘drag’ mode operasi, sehingga menghemat sifat dasar mereka sementara mengubah bentuk mereka.

Geogebra sangat interaktif lingkungan yang juga menyediakan pelajar dengan beberapa jenis informasi(teks, angka) dan komentar (intrinsic dan ekstrinsik visual numeric) untuk memfasilitasi pembentukan dan verifikasi dugaan serta koreksi diri konstruksi mereka. Akhirnya kemungkinan perpanjangan lingkungan juga tersedia untuk guru dan pelajar melalui penambahan makro khusus pada antar muka geogebra. Semua hal tersebut dapat mendorong konstruktivis, belajar eksplorasi, eksperimen, pengendalia diri, refleksi, serta pembentukan pengujian dan perumusan hipotesis.

Lams merupakan open source e-learning system yang menekankan kegiatan pembelajaran kegiatan daripada penyampaian konten pembelajaran. Lams juga menyediakan guru dengan kemampuan yang kuat untuk merancang urutan kegiatan pembelajaran yang dapat disampaikan kepada siswa melalui tatap-muka, dan dicampur kursus online. Bahkan, lams adalah seorang revolusioner lingkungan belajar yang mendukung desain pembelajaran karena menyediakan guru dalam hal intuitif desain, memudahkan urutan kegiatan belajar bahkan mereka yang tidak punya pengalaman pemrograman dan pengetahuan, kemampuan untuk ‘preview’ urutan kegiatan belajar melalui lensa peserta didik, kemampuan untuk mengambil gambaran umum urutan seluruh kegiatan belajar pada layar computer, kemungkinan untuk perbaikan suatu urutan meskipun belajar online secar real-time, kemungkinan untuk mengubah suatu urutan buatan kegiatan belajar siap.

Lams memiliki karakteristik umum dan lat-alat yang membuatnya sesuai untuk kegiatan desain pembelajaran khusus dengan memberikan mereka kesempatan untuk pertukaran pengalaman dan pengetahuan. Untuk tujuan ini, lingkungan pembelajaran berbasis lams itegrasi dengan geogebra bisa menjadi konteks yang bermanfaat bagi yang belajar berbagai konsep matematika.

Metode jigsaw awalnya diusulkan oleh E.A ronson di universitas Texas dan University of California. Para ahli membentuk yang berbeda kelompok untuk mendiskusikan nuansa subyek dan kemudian kembali ke tim mereka untuk mengajar rekan mereka. Ukuran ideal tim adalah 4-6 orang. Secara khusus, pelaksanaan metode jigsaw dapat diwujudkan melalui proses berikut :

  1. Bagilah masalah kedalam sub-masalah.
  2. Membuat grup heterogen.
  3.  Pilih peran dan materi kepada setiap siswa.
  4. Bentuk kelompok ahli.
  5. Biarkan kelompok ahli mempelajari materi dan melaksanakan cara mengajar kolega mereka.
  6. Biarkan ahli mengajar di kelompok-kelompok mereka.
  7. Siswa menilai.
  1. Integrasi geogebra dan jigsaw dalam learning management system pada contoh pembelajaran pada konsep belajar sudut.

Sebuah peran sentral dalam pengembangan pengetahuan geometris dimainkan oleh pemahaman tentang konsep sudut dan rotasi. Namun, siswa sering menghadapi kesulitan dalam belajar aspek yang relevan dari konsep-konsep.  Sudut telah didefinisikan dalam dua cara : sebagai bagian dari pesawat termasuk antara dua sinar pertemuan di titik akhir mereka (definisi statis) dan sebagai jumlah rotasi yang diperlukan untuk membuat suatu sinar untuk sinar lain tanpa keluar dari pesawat(define dinamis).

Penggunaan fitur DMS-seperti geo gebra untuk memberikan siswa kesempatan untuk secara dinamis mengeksploitasi beberapa isu tersebut dari gagasan sudut pada saat yang sama mereka mengatasi kesulitan dan mengingat tidak hanya yang statis, tapi juga karakter dinamis belum dilaporkan. Online jigsaw diusulkan kegiatan belajar dalam geogebra dan lams terdiri dari tujuh tahap berikut: (1) pengantar aktivitas, (2) pembentukan kelompok original, (3) penciptaan kelompok ahli, (4) kemnali kekelompok asli, (5) pembentukan kelompok laporan, (6) laporan kelompok presentasi, (7) penilaian.

Deskripsi fase tersebut dilaporkan pada bagian berikut : sebuah representasi diagram dari metode jigsaw dilaksanakan dalam lams. Tahap (1) jigsaw : pengantar aktivitas tujuan utama dari kegiatan pembelajaran adalah mendorong siswa untuk konsep melalui pelaksanaan investigasi khusus dalam konstruksi berdasarkan interaktif geogebra berbagai isu gagasan matematika dari sudut dilaporkan dlam bagian sebelumnya. Tahap (2)  jigsaw : original pembuatan group para siswa ditugaskan secara acak menggunakan alat pengelompokan untuk 4 kelompok 6 siswa. Tahap (3) jigsaw : pembentukan kelompok ahli selanjutnya setiap anggota kelompok akan mendapatkan keahlian pada suatu masalah tertentu dari diusulkan pada aktivitas belajar melalui partisipasi mereka dalam kelompok ahli. Tahap (4) jigsaw : setiap ahli kembali ke group asli/kelompok asal untuk mengajukan cara alternative untuk mentajikan pengetahuan yang ia peroleh pada saat eksperimentasinya dalam kelompok ahli. Setiap ahli juga harus mendorong rekannya untuk lebuh memahami pengetahuan yang disediakan. Chat room atau forum dapat digunakan oleh setiap ahli untuk mengajar kelompok asli mereka. Tahap (5) jigsaw : laporan kelompok pembentukan. Tahap (6) jigsaw : laporan presentasi akan bermanfaat untuk memberikan siswa dengan beberapa rekomendasi mengenai bagaimana menyiapkan dan menyampaikan presentasi dengan baik.

 BAB IV

PEMBAHASAN

Deskripsi geogebra, lams, dan jigsaw dalam pembelajaran.

Geogebra adalah system matematika dinamis yang menyediakan alat yang beragam  untuk mendukung kebanyakan belajar konsep matematika termasuk dalam geometri Euclid, digeometri analitik, dan aljabar. Geogebra merupakan software matematika dinamis untuk pendidikan disekolah menengah  yang bergabung kalkulus, aljabar, dan geometri. Program yang dikembangkan oleh Dinamic Mathematic for Everyone ini menguntungkan sekali bagi guru dalam mengajarkan Aljabar Geometry. Dalam program ini tersedia banyak sekali fitur tentang geometry dan nilai aljabarnya, seperti persamaan garis, jarak antara dua titik, gambar segibanyak dan luasnya, lingkaran dengan luas, jari, besar sudut pusat, luas juring dan masih banyak lagi fasilitas yang terdapat di dalamnya.

Dari sini kita peroleh kesimpulan bahwa geogebra merupakan software/perangkat lunak pada computer yang dapat membantu pembelajaran dalam pendidikan matematika. Geogebra merupakan system geometri dinamis, dimana semua orang dapat memanfaatkannya dalam mengkonstruksikan titik, garis, vector, segmen dan menampilkannya dalam bentuk grafik dengan segala fungsi dan animasinya. Geogebra mempunyai kemampuan untuk menangani variable angka, vector, dan titik untuk menemukan turunan dan integral dari fungsi yang menawarkan akar atau ekstrem. Geogebra mempunyai karakterstik yaitu sebuah ekspresi dijendela aljabar dan bersesuaian dengan objek dijendela geometri, dan sebaliknya. Geogebra merupakan salah satu open source yang digunakan dalam pembelajaran matematika secara e-learning.

 E-learning merupakan bentuk atau konsep pembelajaran jarak jauh yang menggunakan konsep web based learning atau internet based learning. Penggunaan media dalam suatu proses pembelajaran akan menimbulkan proses pembelajaran yang tidak sama dengan pembelajaran dengan system tatap muka. Suatu system atau proses yang mengubungkan pembelajar dengan pembeajar lainnya maupun dengan dengan suatu sumber pengetahuan, yang masing masing terpisah oleh suatu jarak harus berinteraksi baik secara synchronous dan astnchronous. Synchronous adalah interaksi antara komponen-komponen yang saling berhubungan, dan terjadi secara bersamaan atau real time. Sedangkan asynchronous adalah proses interaksi antara komponen-komponen yang saling berhubungan dan tidak terjadi dalam waktu yang bersamaan. Geogebra dan lams merupakan open source yang bersifat gratis dalam pembelajaran jarak jauh. Penggunaan open source yang bersifat gratis digunakan untuk menekan biaya dalam pelaksanaan pembelajaran.

Lams merupakan open source e-learning system yang menekankan kegiatan pembelajaran kegiatan daripada penyampaian konten pembelajaran. Lams juga menyediakan guru dengan kemampuan yang kuat untuk merancang urutan kegiatan pembelajaran yang dapat disampaikan kepada siswa melalui tatap-muka, dan dicampur kursus online. Learning management system atau yang biasa dikenal dengan kegiatan belajar managemen system. Pendekatan lams sering diartikan suatu pendekatan dimana rancangan belajar (kegiatan belajar sequence) terdiri dari kegiatan belajar individu. Lams merupakan alat revolusioner untuk merancang, mengelola, dan memberikan kolaborasi belajar online. Menyediakan guru dengan lingkunga authoring sangat intuitif visual untuk menciptakan urutan kegiatan belajar. Kegiatan ini mencakup berbagai tugas individu , kerja kelompok kecil, dan kegiatan seluruh kelas didasarkan pada konten dan kolaborasi.

Lams merupakan perangkat lunak free open sourch software tersedia dibawah lisensi GPL vers 02. NU. Learning management system ini berisi materi-materi dalam kompetensi pendagogik dan professional, yang dibuat dengan kemasan multimedia(teks, animasi, video, sound, FX). Diberikan sebagai supplement dan enrichment bagi pengembangan kompetensi pembelajaran. Dalam learning management system perlu dilakukan inovasi yang mencakup inovasi dibidang teknologi informasi dan komunikasi khususnya yang berbasis virtual melalaui web online learning dan pembelajaran terpisah (stand alone) yang tidak berhubungan dengan koneksi internet. Web yang dikembangkan dibuat secara dinamis (dynamic e-learning) yang bersifat learning management system(Lams).

Pengembangan lams( Learning management system ) memerlukan perencanaan yang hati-hati dan studi kelayakan yang matang agar pengembangan ini mampu untuk menjawab berbagai permasalahan dalam pendidikan, dunia kerja, dan keilmuan. Perlu diperhatikan bahwa Learning management system yang dibuat sesuai dengan dengan prinsip-prinsip pendagogi. Untuk pengembangan lams, diperlukan wawasan yang luas tentang program untuk semua level, memfasilitasi pembelajar untuk belajar individual atau kelompok, membangun komunikasi yang efektif dan menciptakan masyarakat belajar, dengan demikian dapat ditentukan materi pembelajaran mana yang perlu ditambah, diubah, atau diperbaharui.

Menurut Jason cole (2005) mengungkapkan bahwa secara umum fungsi-fungsi yang harus terdapat dalam learning management system antara lain :

  • Uploading and sharing materials

Umumnya learning management system menyediakan layanan untuk mempermudah publikasi konten. Dengan menggunakan editor HTML, kemudian mengirim dokumen melalui FTP server, segingga dengan demikian mempermudah instruktur untuk menempatkan materi ajarnya sesuai silabus yang mereka buat. Kebanyakan instruktur mengupload silabus yang mereka buat. Kebanyakan instruktur menguload silabus, catatan materi, penilaian, dan artikel-artikel siswa kapanpun dan dimanapun mereka berada.

  • Forum and chat

Forum online dan chatting menyediakan layanan komunikasi dua arah antara instruktur daan siswanya, baik dilakukan secara sinkron (chat) maupun asinkron (email, forum). Sehingga dengan fasilitas ini, memungkinkan bagi siswa untuk meulis tanggapannya, dan mendiskusikan dengan temannya yang lain.

  • Quizzes and surveys

Kuis dan survey secara online dapat digunakan untuk memberikan grade secara instan bagi peserta kursus. Hal ini merupakan tools yang sangat baik digunakan untuk mendapatkan respon (feedback) langsung dari siswa yang sesuai dengan kemampuan dan daya serap yang mereka miliki. Proses ini dapat dilakukan dengan membangun sebuah bak soal, yang kemudian semua soal tersebut dapat degenerate secara acak untuk muncul dalam kuis.

  • Gathering and reviewing assignment

Proses pemberian nilai dan skoring kepada siswa dapat  juga dilakukan secara online dengan bantuan learning management system.

  • Recording graders

Fungsi lain dari learning management system adalah melakukan perekaman  data grade siswa secara otomatis, sesuai konfigurasi dan pengaturan yang dilakukan instruktur dari awal kegiatan pembelajaran dilaksanakan.

Pelatihan teknologi informasi dan komunikasi untuk menguasai system learning management system yang digunakan untuk pembelajaran, dan pelatihan penguasaan kompetensi pendadogis yeng meliputi :

  1. Pelatihan untuk menguasai karakteristik pembelajar dari aspek fisik, moral, social, cultural, emosional, dan intelektual.
  2. Pelatihan menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
  3. Pelatihan menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik.
  4. Pelatihan mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu.
  5. Pelatihan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi kepentingan penyelenggaraab kegiatan pengembangan yang mendidik.
  6. Pelatihan memfasilitasi pengembangan potensi pembelajar untuk mengaktualisasikan berbagai kompetensi yang dimiliki.
  7. Pelatihan pemanfaatan hasil penlaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
  8. Pelatihan melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Metode jigsaw awalnya diusulkan oleh E.A ronson di universitas Texas dan University of California. Kegiatan-kegiatan jigsaw digunakan dalam ratusan ruang kelas dengan banyak kebarhasilan. Jigsaw telah dilihat sebagai suatu metode yang dapat mendukung dengan baik dan kolaboratif dalam pembelajaran kolaboratif. Gallardo juga berfikir bahwa metode ini juga terletak dalam kerangka pembelajaran konstruktif, selain itu, banyak peneliti juga telah mengusulkan penerapan metode ini dalam konteks online. Meskipun fakta bahwa jigsaw awalnya diusulkan untuk tatap-muka pendidikan.

Metode pembelajaran tipe jigsaw adalah suatu pembelajaran kolaborativ yang terdiri dari beberapa anggota dalam suatu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar dan mampu mengajarkan bagian tersebut kepada kelompok lain dalam anggota lain dalam kelompoknya. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang telah diberikan, tetapi mereka juga harus memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompok yang lain. Dengan demikian, siswa saling tegantung dengan yang lain dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Anita 2002).

Metode jigsaw merupakan salah satu model kooperatif learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota kelompoknya menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan ketrampilan yang dimilikinya secara bersama-sama untuk saling meninglatkan pemahaman seluruh anggota. Ditambahkan oleh silberman(2005), bahwa jigsaw learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok”( group to group) dengan suatu perbedaan penting. Setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Setiap peserta didik mengajari sesuatu yang dikombinasi  dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain.

Secara khusus, pelaksanaan metode jigsaw dapat diwujudkan melalui proses berikut :

  1. Bagilah masalah kedalam sub-masalah.
  2. Membuat grup heterogen.
  3.  Pilih peran dan materi kepada setiap siswa.
  4. Bentuk kelompok ahli.
  5. Biarkan kelompok ahli mempelajari materi dan melaksanakan cara mengajar kolega mereka.
  6. Biarkan ahli mengajar di kelompok-kelompok mereka.
  7. Siswa menilai

Menurut Halimatus S. (2002) bahwa langkah-langkah dalam metode kooperatif tipe jigsaw antara lain :

  1. Guru memberi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi beberapa bagian.
  2. Sebelum bahan pelajaran diberikan guru akan memberikan pengenalan mengenai topic yang akan dibahas dalam bahan pembelajaran untuk hari itu. Guru bias menuliskan topic dipapan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topic tersebut.
  3. Guru membagi siswa dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari 4anggota tim(disesuaikan dengan jumlah sub topic) sehingga anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen sub topic yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.
  4. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggung jawab terhadap sub topic yang sama membentuk kelompok lagi(kelompok pakar/ahli). Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam (a) belajar menjadi ahli dalam sub topic bagiannya; (b) merencanakan bagaimana mengajarkan sub topic bagiannya kepada anggota kelompok semula.
  5. Siswa tersebut kembali ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam sub topic lainnya jugs bertindak serupa, sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru, dengan demikian setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topic pelajaran secara keseluruha,
  6. Tiap tim ahli mempresentaikan hasil diskusi.
  7. Evaluasi terhadap materi yang diperoleh secara individu.
  8. Penghargaan.
  9. Penutup.

Berdasarkan informasi dari Anonymous92007), factor kunci dari keberhasilan yang harus diperhatikan dalam penerapan metode ini adalah :

  • Positive interdependence

Setiap anggota harus memiliki ketergantungan satu sama lain yang dapat menguntungkan dan merugikan anggota kelompok lain.

  • Individual accountability

Setiap anggota kelompok harus memiliki rasa tanggungjawab

  • Fce to-face promote

Setiap anggota kelompok melakukan tatap muka

  • Social skills

Setiap anggota kelompok bersosialisasi dengan yang lain

  • Groups processing and relection

Kelompok harus melakukan evaluasi terhadap proses belajar

 Integrasi geogebra dan jigsaw dalam learning management system pada contoh pembelajaran pada konsep belajar sudut.

Penggunaan fitur DMS-seperti geo gebra untuk memberikan siswa kesempatan untuk secara dinamis mengeksploitasi beberapa isu tersebut dari gagasan sudut pada saat yang sama mereka mengatasi kesulitan dan mengingat tidak hanya yang statis, tapi juga karakter dinamis belum dilaporkan. Online jigsaw diusulkan kegiatan belajar dalam geogebra dan lams terdiri dari tujuh tahap berikut: (1) pengantar aktivitas, (2) pembentukan kelompok original, (3) penciptaan kelompok ahli, (4) kemnali kekelompok asli, (5) pembentukan kelompok laporan, (6) laporan kelompok presentasi, (7) penilaian. Penyajian pola kolaboratif bertujuan mendukung kombinasi sinkron dan kolaborasi asynchronous tapi pola ini bias digunakan secara eksklusif untuk asynchronous kolaborasi dengan menggantikan “chat and scribe” fungsi dengan “forum dan scribe” fungsi atau sebaliknya untuk mendukung sinkron kolaborasi secara ekslusif.

Pemanfaatan metodologi pembelajaran kolaboratif merupakan kunci di dalam merancang pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Pendekatan ini tidak mengizinkan seorang individu untuk memegang keseluruhan dari suatu diskusi yang kompleks. Hanya dengan menempatkan diskusi lengkap kedalam suatu halaman yang dapat bergulung, seorang dapat mereview dan memahami diskusi dan secara kognitif dengan terarah. Pengguna dalam system sederhana ini tidak dapat melakukan diskusi besar yang kompleks dan tidak ada jalan untuk merealisasi diskusi kompleks tersebut meskipun hal itu dimungkinkan.

Deskripsi fase tersebut dilaporkan pada bagian berikut : (1) sebuah representasi diagram dari metode jigsaw dilaksanakan dalam lams. Tahap (1) jigsaw : pengantar aktivitas tujuan utama dari kegiatan pembelajaran adalah mendorong siswa untuk konsep melalui pelaksanaan investigasi khusus dalam konstruksi berdasarkan interaktif geogebra berbagai isu gagasan matematika dari sudut dilaporkan dlam bagian sebelumnya. Untuk ini, siswa harus dipisahkan dalam kelompok ahli sesuai dengan isu tersebut. Untuk tujuan ini, berikut kelompok ahli yang dibentuk : (a) jenis spesifik dari sudut jigsaw group, (b) sudut dan jigsaw group, (c) sudut dan lingkaran jigsaw group, (d) sudut dalam segitiga dan jigsaw segiempat group, (e) sudut dalam polygon jigsaw group, (f) sudut kongruen dan sejenisnya bentuk jigsaw group. Untuk melakukan investigasi berhasil, masing-masing kelompok tersebut harus bereksperimen dengan khusus dirancang interaktif konstruksi yang telah tereaalisasi dengan menggunakan geogebra dan terpadu sebagai laboratorium dalam lams. Tahap (2)  jigsaw : original pembuatan group para siswa ditugaskan secara acak menggunakan alat pengelompokan untuk 4 kelompok 6 siswa. Tahap (3) jigsaw : pembentukan kelompok ahli selanjutnya setiap anggota kelompok akan mendapatkan keahlian pada suatu masalah tertentu dari diusulkan pada aktivitas belajar melalui partisipasi mereka dalam kelompok ahli. Tahap (4) jigsaw : setiap ahli kembali ke group asli/kelompok asal untuk mengajukan cara alternative untuk mentajikan pengetahuan yang ia peroleh pada saat eksperimentasinya dalam kelompok ahli. Setiap ahli juga harus mendorong rekannya untuk lebuh memahami pengetahuan yang disediakan. Chat room atau forum dapat digunakan oleh setiap ahli untuk mengajar kelompok asli mereka. Tahap (5) jigsaw : laporan kelompok pembentukan. Tahap (6) jigsaw : laporan presentasi akan bermanfaat untuk memberikan siswa dengan beberapa rekomendasi mengenai bagaimana menyiapkan dan menyampaikan presentasi dengan baik.

Dalam pendangan lain(lihat http ://www.jigsaw.org) dijelaskan bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dibagi kedalam 10 langkah pembelajaran :

  1. Bagilah siswa kedalam 5 atau 6 kelompok jigsaw. Kelompok-kelompok tersebut harus beragam dalam hal gender, etnis, ras, dan kemampuan.
  2. Menunjuk salah satu siswa dari setiap kelompok sebagai pemimpin. Awalnya, orang ini harus menjadi siswa paling matang dalam kelompok.
  3. Bagilah pelajaran hari itu menjadi 5-6 segmen.
  4. Tugasi setiap siswa untuk belajar satu segmen, sehingga siswa yakin memiliki akses langsung hanya untuk akses mereka sendiri.
  5. Memberikan siswa waktu untuk membaca lebih segmen mereka setidaknya dua kali dan menjadi akrab dengannya.  Mereka tidak perlu menghafal.
  6. Bentuk “kelompok ahli” sementara dengan memiliki satu murid dari masing-masing kelompok jigsaw bergabung dengan siswa lain yang ditugaskan pada segmen yang sama. Berikan siswa waktu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan poin-poin penting dalam segmen mereka dan melatih mereka dalam membuat jigsaw group.
  7. Para siswa kembali ke kelompok jigsaw mereka.
  8. Mintalah setiap siswa untuk menyajikan segmen dia atau untuk grup. Mendorong orang lain dalam kelompok untuk mengajukan pertanyaan untuk klarifikasi.
  9. Float dari kelompok, mengamati proses. Jika kelompok manapun mengalami kesulitan, membuat intervensi yang cepat. Akhirnya yang terbaik bagi pemimpin kelomok untuk menangani tugas ini. Pemimpin dapat dilatih dengan membisikkan instruksi temtang bagaimana melakukan intervensi, sampai pemimpin menguasainya/
  10. Pada akhir sesi, memberikan kuis pada materi sehingga siswa dengan cepat menyadari bahwa sesi ini tidak hanya menyenangkan dan game, tapi benar-benar dihitung.

Pada tahap pertama dalam kegiatan jigsaw, siswa dibagi menjadi 4-6 siswa. Pada tahap dua, siswa diberitahukan menggunakan pemberitahuan sebuah papan tentang konteks seluruh aktivitas, termasuk tujuan-tujuannya, spesifik isu gagasan matematika sudut yang harus ditangani selama kegiatan ini. Selain itu, siswa diberitahukan tentang kemungkinan untuk digunakan sebagai laboratorium virtual khusus sejumlah interaktif konstruksi yang menggunakan geogebra.  Pada tahap tiga, materi yang didiskusikan dinagi menjadi 6 segmen. Yaitu (1) jenis sudut jigsaw group, (2) sudut dan garis jigsaw group,(3) sudut dan lingkaran jigsaw group (4) sudut dalam segitiga dan segiempat, (5) sudut dalam polygon group, (6) sudut dalam kongruen dan mirip. Pada tahap empat, siswa akan dibagi sesuai dengan materi tersebut. Pada tahap lima, siswa diperkenankan untuk memahami materi tersebut terlebih dahulu. Pada tahap enam siswa diminta untuk membentuk kelompok ahli yang digabungkan dengan dengan kelompok lain untuk membahas satu segmen. Pada    awalnya siswa masing-masing membahas grup menggunakan grup chat room atau sebuah forum kelompok yang isu yang disajikan dalam pendahuluan berusaha membentuk kerangka kerja yang dapat diterima dari ide umum. Setiap kelompok harus memeutuskan gagasan ide mereka tentang sudut yang mereka pilih. Pada tahap empat, setiap ahli kelompok harus bereksperimen dengan menggunakan alat yang disediakan oleh e-labs. Khusus jenis sudut jigsaw group : para ahli dalam kelompok ini harus menyelidiki konstruksi interaktif spesifik menggunakan geogebra untuk menjelaskan sifat dari berbagai jenis sudut seperti : sudut akut, hak sudut, sudut tumpul, sudut lurus, dan sudut refleks, serta berlawanan sudut vertical, pelengkap dan tambahan sudut. Sudut dan garis jigsaw group : para ahli dalam kelompok ini harus bereksperimen menggunakan geogebra untuk mengidentifikasi estimasi sesuai garis lurus lain. Sudut dan lingkaran group : para ahli dalam kelompok ini dapat mengatasi konstruksi geogebra untuk mengeksplorasi sudut setengah lingkaran dalam, sudut dalam busur yang sama, dan hubungan antara ukuran mereka. Sudut dalam segitiga dan segiempat group : para ahli dalam kelompok ini menyelidiki jenis sudut dalam berbagai jenis segitiga dan segiempat serta jumlah dari sudut interior. Sudut dalam polygon jigsaw group : para ahli harus melakukan penyelidikan dengan menggunakan geogebra dalam rangka mengeksplorasi berbagai isu mengenai sudut polygon tidak teratur. Sudut dalam kongruen dan mirip jigsaw group : para ahli bereksperimen untuk mencari kongruen dan bentuk yang sama untuk membuatnya jelas. Selain bereksperimen, pengumpulan data, pengolahan dan pembentukan hipotesis tentang berbagai isu gagasan sudut. Kelompok ahli harus mengatur secara menarik dan proses pengajaran yang efisien untuk membantu rekan-rekan mereka dalam kelompok . pada tahap tujuh , kelompok ahli kembali pada kelompok awa. Pada tahap delapan,  setiap ahli harus dapat mendorong rekannya untuk lebih memahami pengetahuan yang disediakan. Chat room atau forum digunakan untuk mengajar kelompok asli mereka. Pada tahap , Sembilan  siswa akan berusaha menjelaskan kepada siswa lainnya dalam chatroom atau forum dan membarikan intervensi yang cepat bagi teman-teman mereka yang mengalami kesulitan. Pada tahap sepuluh, guru akan memberikan kuis pada siswa melalui forum taua chatroom.

 BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

SIMPULAN

Geogebra adalah system matematika dinamis yang menyediakan alat yang beragam  untuk mendukung kebanyakan belajar konsep matematika termasuk dalam geometri Euclid, digeometri analitik, dan aljabar. Geogebra sangat interaktif lingkungan yang juga menyediakan pelajar dengan beberapa jenis informasi(teks, angka) dan komentar (intrinsic dan ekstrinsik visual numeric) untuk memfasilitasi pembentukan dan verifikasi dugaan serta koreksi  diri mereka.

 Lams merupakan open source e-learning system yang menekankan kegiatan pembelajaran kegiatan daripada penyampaian konten pembelajaran. Lams memiliki karakteristik umum dan lat-alat yang membuatnya sesuai untuk kegiatan desain pembelajaran khusus dengan memberikan mereka kesempatan untuk pertukaran pengalaman dan pengetahuan. Untuk tujuan ini, lingkungan pembelajaran berbasis lams itegrasi dengan geogebra bisa menjadi konteks yang bermanfaat bagi yang belajar berbagai konsep matematika.

Metode jigsaw merupakan salah satu model kooperatif learning yaitu proses belajar kelompok dimana setiap anggota kelompoknya menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat, kemampuan, dan ketrampilan yang dimilikinya secara bersama-sama untuk saling meninglatkan pemahaman seluruh anggota. Ditambahkan oleh silberman(2005), bahwa jigsaw learning merupakan sebuah teknik yang dipakai secara luas yang memiliki kesamaan dengan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok”( group to group) dengan suatu perbedaan penting. Setiap peserta didik mengajarkan sesuatu. Setiap peserta didik mengajari sesuatu yang dikombinasi  dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain.

Pada tahap pertama dalam kegiatan jigsaw, siswa dibagi menjadi 4-6 siswa. Pada tahap dua, siswa diberitahukan menggunakan pemberitahuan sebuah papan tentang konteks seluruh aktivitas, termasuk tujuan-tujuannya, spesifik isu gagasan matematika sudut yang harus ditangani selama kegiatan ini. Selain itu, siswa diberitahukan tentang kemungkinan untuk digunakan sebagai laboratorium virtual khusus sejumlah interaktif konstruksi yang menggunakan geogebra.  Pada tahap tiga, materi yang didiskusikan dinagi menjadi 6 segmen. Yaitu (1) jenis sudut jigsaw group, (2) sudut dan garis jigsaw group,(3) sudut dan lingkaran jigsaw group (4) sudut dalam segitiga dan segiempat, (5) sudut dalam polygon group, (6) sudut dalam kongruen dan mirip. Pada tahap empat, siswa akan dibagi sesuai dengan materi tersebut. Pada tahap lima, siswa diperkenankan untuk memahami materi tersebut terlebih dahulu. Pada tahap enam siswa diminta untuk membentuk kelompok ahli yang digabungkan dengan dengan kelompok lain untuk membahas satu segmen. Pada awalnya siswa masing-masing membahas grup menggunakan grup chat room atau sebuah forum kelompok yang isu yang disajikan dalam pendahuluan berusaha membentuk kerangka kerja yang dapat diterima dari ide umum. Setiap kelompok harus memeutuskan gagasan ide mereka tentang sudut yang mereka pilih. Pada tahap empat, setiap ahli kelompok harus bereksperimen dengan menggunakan alat yang disediakan oleh e-labs. Khusus jenis sudut jigsaw group : para ahli dalam kelompok ini harus menyelidiki konstruksi interaktif spesifik menggunakan geogebra untuk menjelaskan sifat dari berbagai jenis sudut seperti : sudut akut, hak sudut, sudut tumpul, sudut lurus, dan sudut refleks, serta berlawanan sudut vertical, pelengkap dan tambahan sudut. Sudut dan garis jigsaw group : para ahli dalam kelompok ini harus bereksperimen menggunakan geogebra matika.

 IMPLIKASI

  1. Dengan adanya kolaborasi pembelajaran menggunakan metode jigsaw dengan free open source software matematika yang meliputi geogebra dan lams diharapkan akan meningkatkan kemudahan kegiatan pembelajaran bagi siswa dan guru melalui kegiatan e-learning.
  2. Jika siswa dapat memahami pembelajaran tersebut menggunakan free open source software matematika yang meliputi geogebra dan lams dengan baik pada saat pembelajaran e-learning siswa diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan aktif dalam pembelajaran.
  3. Kepada pembaca diharapkan ada masukan dan kritik atas penulisan review jurnal intermasional ini karena keterbatasan dan kekurangan yang terdapat didalamnya.
  4. Kepada peneliti selanjutnya agar dapat mempersempit problem yang mungkin akan muncul dengan mengambil beberapa pertimbangan untuk meminimalisasi kendala yang akan dihadapi.
  5. Kepada para pendidik diharapkan agar mampu mengambil kegiatan positif dari cara pembelajaran, sehingga pendidik mampu melakukan inovasi dalam setiap kegiatan pembelajaran yang dia lakukan.
  6. Kepada para siswa yang dijadikan model dalam kegiatan penelitian ini hendaknya dapat meningkatkan motifasi belajarnya, sehingga akan meningkatkan prestasi belajar siswa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.geogebra.org

http://www.lamscommunity.org/lamascentral/

http://www.jigsaw.org

http://www.melcoe.mq.edu.au/sharing-good-pendagogy-the-promise-of-learning-desain

http://e-dufiesta.blogspot.com/2008/06/pengertian-e-learning

http://zuhairistain.blogspot.com/2009/04/pengertian-desain-pembelajaran

Dr. Munir, M.IT. (2009). PEMBELAJARAN JARAK JAUH Berbasis Teknologi Informasi dan KOmunikasi. Bandung : CV Alvabeta.

Robert E. Slavin. (2005). Coperative Learning : Theory, research, and practice. Lodon : Allyman Bacon.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s